Sunday, September 24, 2017

Diary September 24, 2017 Confused

Bisa dikatakan sudah tiga bulan ini aku tidak menyentuh blog. Selain tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan, kesibukanku pada perputaran kehidupan yang monoton, bisa dikatakan menjadi alasan utama mengapa aku kehilangan semangat untuk menulis. Anehnya, otakku sebenarnya tidak seperti itu, ia tetap aktif layaknya gunung yang siap meletus kapan saja, namun lava yang ia pendam tak langsung juga ia keluarkan, melainkan disimpan untuk dirinya sendiri. Penuh kontradiksi bukan?


----

Aku selalu tidak bisa berbaikan dengan perpisahan, selalu. Terutama jika hal itu terjadi kepada orang-orang yang sudah aku anggap istimewa dalam kehidupanku. Orang-orang boleh saja mengatakan hal ini adalah wajar, salah satu bagian dari proses kehidupan yang kita manusia tidak punya daya untuk menghentikannya. Lalu, jika benar begitu, apakah hidup hanya selalu tentang bertamu dari satu rumah ke rumah lainnya?

Konsep ini sungguh mengerikan, sampai-sampai ingin memaki aku dibuatnya. Tapi pada siapa? 

***

Aku memiliki seorang wanita yang aku suka. Tepat pada minggu lalu, aku mengatakan hal tersebut padanya. Bukan berarti kami langsung memiliki hubungan yang romantis sebagaimana pada umumnya. Tidak, kami tidak melakukan hal seperti itu. Aku rasa ia cukup dewasa menyikapi hal ini, apalagi pada dasarnya aku mengatakan hal tersebut semata-mata keinginanku saja. Aku sama sekali tidak berkeinginan mengetahui jawabannya ataupun responnya, karena menurutku yang semacam itu tidaklah penting.

Tapi pertama-tama aku bersyukur, karena apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan. Kedua, aku juga bersyukur kita masih bisa berbicara seperti biasanya. Ketiga, aku senang bisa mengenalnya. Dan di balik itu semua, aku telah melakukan apa yang tidak akan membuatku menyesal di esok hari.

Jika melihat lagi hukum alam seperti yang kita bicarakan di atas, rasanya aku cukup khawatir. Jujur saja aku khawatir. Walaupun aku tahu, dia pun juga tahu, kelak pada suatu saat nanti kita akan mempunyai kehidupan masing-masing. Dan aku pun tidak boleh menyangkalnya, bahwa yang aku takutkan adalah harus berhadapan lagi dengan perpisahan.

Kami memang sangat jarang sekali keluar bersama, apalagi berdua. Kami juga tidak banyak bicara ketika ada banyak orang-orang di sekitar kita. Menyapa pun kami hanya sebatas senyum. 

Kami lebih sering bercakapan via chatting. Kami sering juga bisa menghabiskan 3-5 jam di telepon. Terkadang aku juga sempat main ke depan kosnya, yang di mana hal ini bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

Sedikit akan terdengar menggelikan, tapi bukan berarti jika kami lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang kehidupan asli, tandanya aku tidak perlu terlalu bersedih ketika orang itu pergi bukan? Setidaknya kesedihan akan kepergian orang itu tidak akan berlangsung lama.

Well, aku rasa hal itu benar. Aku memang tidak akan terlalu bersedih, dan tidak akan juga sebegitu terpuruknya. 

Tapi biarkan aku mengatakan satu fakta lagi, bahwa kesedihan itu sifatnya adalah subjektif. Kalian tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya, sampai hal itu kalian rasakan sendiri. Hingga saat itu tiba, kita manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan seperti yang orang lain itu rasakan, hanya akan menilai objektif. 



Ada satu lagi ketakutanku selain perpisahan.




Aku takut untuk dilupakan.

0 comments:

Post a Comment

 
;