Friday, August 19, 2016

Diary August 18, 2016

Tak ada sesuatu yang tak tumbuh. Layaknya tanaman yang tiap hari menatap langit, berharap waktu berhenti untuk sesaat, namun selalu ada waktu untuknya, mendapat giliran oleh dunia, untuk mekar mendewasa. Tak ubahnya manusia.

Lusa menjadi esok, esok menjadi hari ini, hari ini menjadi kemarin, dan kemarin menjadi masa lalu. Turut berduka cita atas datang dan hilangnya waktu manusia. Semuanya berjalan terlalu cepat. Terkadang, itu semua berlalu hanya dengan satu hentakan mata yang tertutup lalu terbuka. Melihat sekeliling bahwa semuanya tak lagi sama. Aku tak mungkin lagi bermain sesuka hati, namun kini aku harus mengikuti segala bentuk peraturan-peraturan murahan, konyol, gelap, dan tidak masuk akal, itulah permainan yang sedang kuhadapi sekarang. Aku tidak bisa berbicara banyak.

Melirik lagi ke masa-masa itu—terkadang aku masih memimpikannya, entah apa itu alasannya aku juga tidak tahu—aku merasa semua hal ini ada bukan tanpa siapa-siapa, begitu juga penyesalan. Di mimpi itu, teringat jelas bagaimana potongan-potongan kecil yang sudah berserakan di mana-mana, puing-puingnya kembali menjadi satu bagian utuh. Apa adanya dan selalu mendamba.

Biasanya, di dalam mimpiku, aku hanya menjadi sebuah penonton kehormatan di panggung opera terbesar se-jagat raya. Posisi dudukku di sana merupakan yang paling ternyaman dan strategis. Beberapa tamu berkicau samar-samar di belakangku tentang bagaimana beruntungnya menjadi aku. Pelayanan berkualitas yang tak semua tamu dapatkan. Anggur termahal terlihat disajikan di mejaku. Dan beberapa wanita ikut duduk disampingku, mengiringiku hingga acara selesai. 

Opera tersebut berjalan seperti skenario yang sudah dibuat, dan tak tampak sedikitpun ada kecacatan saat pentas berlangsung. Secara spesifik acara yang ditampilkan memanglah mengagumkan. Semua penonton berpesta pora seakan-akan mereka telah menyaksikan sebuah satu karya masterpiece, tidak sedikit penonton yang mengalirkan air mata karena kekagumannya. Mereka semua, kecuali aku. 

Aku memang tidak bergeming sedikitpun, namun itu bukan karena rasa kagum dan semacamnya. Melainkan aku tidak pernah puas akan semua mimpi-mimpi yang hinggap dalam tiap tidurku. Merubah seenaknya hakikat ilusinya. Seakan-akan merekalah kenyataan. Tapi, di balik itu aku senang, bahwa segala yang pergi tidak semuanya mati. Mereka selalu hadir. Setidaknya saat kita memejamkan mata.

Sekarang bercerita mengenai seseorang. Setiap manusia pasti akan mempunyai saat-saat dimana ia akan menciptakan masa depan bahkan semesta bersama dengan seseorang. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa "seseorang" yang dimaksud. Kalau pun belum, suatu hari akan, jika dirasa hari itu tak kunjung tiba maka tanyakan, apakah ada yang salah di dalam dirimu. Tak usah khawatir, waktu akan menjelaskan semuanya bagi kita para anak domba.

Namun, setiap pengharapan akan selalu diikuti oleh keputusasaan. Ya. Kita para anak domba terlalu lemah untuk memijakkan kaki di tanah masa depan yang hanya berjarak sejengkal dari pelupuk mata. Berpikirnya bahwa masa depan hanyalah seperangkat hal yang terstruktur sedemikian rupa, yang kemudian kita jadikan seolah-olah hal tersebut tak lebih hebat dari yang kita bayangkan.

Kamu tidak akan tahu, seseorang yang berjalan di sampingmu menuju ke masa depan, mungkin saja akan tertinggal di belakang dan menjadi masa lalu, bahkan berlaku juga untuk sebaliknya. Jika kakimu berpikir bahwa ia membawamu menuju ke arah masa depan, dan dirimu hanya melihat dataran kosong penuh kehampaan tanpa impian, cobalah menoleh kebelakang. Jika saat dirimu menoleh kebelakang, dan melihat segala sesuatunya, tiap detiknya, tiap kedipan mata, tiap angin yang berhembus melewati sukma, dan bayangan dirinya, adalah sesuatu yang berharga dan membuatmu merasa ada di dalam rumah yang sesungguhnya, maka kakimu berdusta. Sesungguhnya dirimu tidaklah menuju ke mana-mana. Hati dan pikiran mengikat sayapmu di tanah. Dan selamat, karena dirimu bukanlah satu-satunya korban dari permainan waktu.

Ironis sekali rasanya. Bagaimana waktu bisa merubah segala benda menjadi sampah, kenangan menjadi angin lalu, cinta berubah menjadi benci, terang menjadi gelap, seseorang yang dekat tiba-tiba menjadi manusia asing, dari yang bebas menjadi terkekang, pengharapan berubah lara, usaha bukan lagi sama dengan hasil, dan di mana semua cerita menjadi derita.

Tak heran jika seseorang dengan mudahnya mengakhiri ceritanya dengan paksa. Bagi orang lain hal itu sama saja menggelikan. Kekonyolan manusia yang lumrah di mana-mana, pikir mereka. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dengan mudahnya berpikir dengan logika mereka yang tidak karuan arahnya kemana itu.

Dalam yakinku kini bertambah satu hal lagi yang pasti selain kepergian, ialah perubahan.

Manusia mana yang bisa menolak kedua hal itu?

"Berdoalah." kata mereka. 

Pfffttt.




0 comments:

Post a Comment

 
;