Wednesday, December 2, 2015

Maturity Side of Love



Cerita mana yang mengatakan bahwa menjadi dewasa itu sesuatu hal yang indah? Sungguh penyesalan bagiku yang pernah berpikir kalau menjadi dewasa kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan, memilih pilihan sesuka hati, kebebasan, terlihat lebih keren, mempunyai suara untuk berpendapat di keluarga ataupun masyarakat, di hormati, dan masih banyak lagi pikiran-pikiran yang tidak dewasa berharap untuk didewasakan.

Kebahagiaan tidak datang dengan berperilaku dewasa, percayalah. Tapi dengan cobaan hidup yang menerpa kita dan menghujat kita terus menerus, seperti ada yang berkembang didalam diri kita. Pasti. Semakin kuat, semakin tegar, terus tumbuh, tentunya semakin dewasa dalam arti yang sesungguhnya.

Kamu tidak akan pernah tahu cara Tuhan menempa dan membuat kamu untuk menjadi seseorang yang benar-benar dewasa. Bukan orang tua kamu, bukan sahabat, bukan kekasih, dan bukan juga orang lain. Hanya kamu dan Tuhan.

Salah satunya adalah kasih sayang. Yang mungkin orang lain menyebutnya dengan ‘Cinta’. Sungguh terdengar menggelikan mendengar kata itu. Bagaimana kalau kita ganti dengan ‘Sayang’? Terdengar lebih romantis dan lebih dewasa bukan? Ya setidaknya bagiku seperti itu.

Takaran warna-warni kasih sayang orang-orang berbeda. Menyayangi dan mengasihi orang lain harus berbeda-beda caranya. Ya. Tuhan sengaja menciptakannya seperti itu. 

Pernah ada cerita seorang kawan yang mencoba mendekati temen sekelas kami berdua. Parasnya cantik, tidak terlalu banyak bergaul layaknya perempuan lain kebanyakan. Sebelum teman ku ini mendekati sang wanita, aku memintanya untuk memperjelas lagi apa status si perempuan. Tanpa banyak pikir panjang temanku ini langsung meng-iyakan saran yang kuberikan barusan. Dia berjanji akan menanyakannya sore itu setelah pulang kuliah. Sudah nggak sabar untuk menunggu hasilnya esok hari.

Keesokan harinya dengan cepat aku bertanya kepada dia, apa balasan dari perempuan incarannya. Katanya ia sudah memiliki pasangan. Cukup sedih dan turut simpati mendengar ceritanya. Ntah kenapa wanita berparas ayu selalu dan pasti already taken by someone. Tidak bisakah kalian para wanita membiarkan imajinasi dan harapan pria yang kesepian dan jauh dari rumah ini terkabul? 

Kawanku ini tidak langsung menerima kenyataan itu mentah-mentah. Di tanyalah pertanyaan yang sama dengan nada benar-benar untuk memperjelas kalimat apa yang telah diterima di dalam otaknya.
"Kamu nggak bohong kan?" ujar kawan ku yang ia kirim lewat medsos. Pertanyaan yang ia lontarkan menurutku cukup bodoh. Kembali lagi ke poin awal, takaran kasih sayang orang berbeda-beda.

Tapi kalimat selanjutnya yang perempuan itu berikan membuat pikiranku geli dan aneh. 
"Udah dewasa, ngapain bohong?"
Sungguh aku ingin muntah rasanya. Rasa aneh yang susah untuk di deskripsikan. Bagaimana bisa wanita itu menganggap dirinya sudah dewasa? Apa mempunyai sepasang kekasih dan sudah menjalani hubungan yang cukup lama bisa dinamakan dewasa? Apakah dia ingin terlihat intelek di mata kawanku ini? 

Aku belum menganggap diriku seseorang yang sudah dewasa sama sekali. Belum. Sangat jauh.

Perempuan itu mengucapkan kalimat bahwa ia sudah dewasa dengan entengnya. Fisik memang iya. Tapi apakah pikiran dan perilakunya sudah? Masih merasa aneh dengan perkataan wanita itu. Tapi aku tidak ingin memikirnya lebih dalam lagi. Itu bisa membuatku gila.

Ada juga yang menganggap kedewasaan terhadap kasih sayang adalah merelakannya dengan orang lain. Ada lagi yang menganggap dirinya sudah dewasa dengan bergonta-ganti pasangan tiap bulannya, dan masih banyak lagi fakta-fakta kosong yang tak berisi lainnya.

Sama seperti waktu aku pertama kali merasakan namanya berpacaran. Rasanya aku sudah cukup dewasa untuk mencoba jenjang itu. Ego masa muda yang tak tertahankan. Dalam sekejap cara pandangku terhadap sesuatu berubah.

Dari 'Sesuatu yang berubah' itulah yang menghasilkan diriku yang saat ini. 

Kita semua pasti pernah yang namanya jatuh cinta. Apa lagi disaat kita masih muda. Siapa yang tidak ingin mencoba merasakannya? Dan barangsiapa yang sedang jatuh cinta, bersiaplah untuk patah hati. Kalau dewasa adalah sembuh dari patah hati, lebih baik kita tidak belajar untuk mengenalnya.

Jangan pernah belajar untuk jatuh cinta.

0 comments:

Post a Comment

 
;