Monday, December 28, 2015

Lets Draw a Dream

Aku tahu kenapa impian nggak pernah datang tepat di depan keningku. Aku tahu kenapa sampai saat ini aku tidak tahu apa bakatku sebenarnya. Aku sekarang tahu bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai bakat.

Mungkin impian ini terdengar konyol, tapi impian orang sukses yang terkabul berawal dari ide konyol bukan? Aku ingin menjadi seorang penulis. Oke, cukup.

Di hidup seperti sekarang, seorang penulis mungkin tidak akan mendapat singgasana bermartabat, seperti profesi lainnya. Tapi aku menantikan hari, dimana orang-orang akan membaca karya seseorang yang sudah berada entah dimana dengan perasaan bahagia. Membagi sedikit kebahagiaan kecil. Memberikan imagi keberanian yang menular. Menawarkan dunia, yang dimana kita bisa melakukan apa saja. Dan memberikan secarik kertas putih yang belum ternoda, yang meraung-raung untuk digambarkannya sebuah mimpi yang kelak akan menggerakan dunia. Deskripsi singkat seorang penulis dimataku. Profesi yang mulia bukan?

Mungkin, kalau saja dulu aku tidak pernah menyerah dengan apa yang aku tekuni. Mungkin aku akan menadikannya sebuah impian. Bad thing happened for a reason. Pun aku tidak menyerah, segala sesuatu yang aku geluti  tidak kulakukan sebagaimana mestinya. Setengah-setengah. Sungguh, mimpi tidak akan terwujud semudah itu. Tidak pernah all out untuk segala bidang. Apapun yang kamu sukai, lakukanlah dengan prinsip 'Totalitas Tanpa Batas'. Setidaknya untukku.

Belajar dari nge-blog, aku bisa menyampaikan aspirasi yang aku punya. Walaupun banyak yang masih tersangkut di kepala, karena susahnya mencari pilihan kata yang pas. Tapi aku senang untuk bercerita. Bagaimanapun juga, dengan menulis sesuatu kita bisa menciptakan dunia dimana hanya kita yang mengerti. Dunia yang sempurna. Kecacatan yang mendamba. Kisah kasih candu. Awan menari riang. Matahari bersinar berdampingan dengan bulan. Bintang menjadi penerang gelapnya kamar. Bidadari ayu. Tidak ada air mata yang menetes. Hidup bersama dengan orang-orang yang di cintai. Dan yang paling aku suka, kita bisa meniadakan eksistensi perpisahan. Hal yang paling aku benci di dunia ini.

Impian ini mengharuskanku untuk memperbanyak membaca. Tentu saja. Penulis mana yang tidak suka membaca? Aku menggeser hobi-hobi ringan seperti, memprioritaskan novel dari pada komik saat di toko buku, Menyempatkan membaca satu halaman buku setiap hari. Mencari novel-novel recommended untuk dibaca selanjutnya. Yah, saat ini memang baru itu saja. Soon, i'll make this dream come true step by step. Berpikir jangka panjang memang bijak. But not for dreams. Mengejar mimpi berbeda dengan investasi. Setiap langkah mimpi yang kita pijak, mempunyai pelajaran untuk kita.

Bayangkan jika seorang pemuda mempunyai mimpi untuk berada di puncak gunung tertinggi di dunia. Tetapi ia menggunakan pesawat atau helikopteror something like that—untuk berada di puncak gunung tersebut. Memang, mimpi dia terwujud. Tapi tidak ada usaha yang berarti didalamnya. Apakah ada kepuasan diri? Tidak. Dia berpikir terlalu instan. Tanpa ia sadari, banyak pendaki dibawahnya yang mati-matian untuk berada di puncak dengan penuh perjuangan berharap untuk berhasil mendapatkan mimpi tersebut. Pun dia berhasil, usaha yang dihasilkan tidaklah percuma. Ia mendapatkan pemandangan yang tidak semua mata bisa melihat.  Bukan angin lagi yang berhembus, melainkan awan yang bernyanyi. Dingin yang ntah mengapa menjadi hangat. Pelajaran disetiap langkahnya membuat surga yang tidak mengecewakan. Alhasil, pemuda tersebut seakan-akan kehilangan serpihan kecil dalam mimpi yang terwujud itu.

Mimpi tidak seperti pasar perdagangan, yang bisa kita ukur dengan grafik dan pola. Mimpi terjadi begitu saja. Tanpa kita sadari. 


0 comments:

Post a Comment

 
;