Monday, December 28, 2015

Diary December 28, 2015

Nggak ada yang spesial untuk hari ini. Salah satu hari yang akan tenggelam sama seperti hari-hari sebelumnya. Membosankan. 

Dimana orang-orang sedang sibuk untuk persiapan ujian besok, aku masih asik sendiri dengan duniaku sendiri. Masa bodoh tentang ujian. Lulus dengan nilai pas-pasan pun aku bersyukur. Ah sudahlah, lupakan saja.

Apa aku seseorang yang tensi darahnya rendah? Kenapa setiap bangun tidur, ada saja yang membuatku kesal. Ntah itu hal kecil atau hal kecil yang sedikit besar. Akhir-akhir ini setiap kali aku terbangun, hal yang aku selalu ingin lakukan pertama kali adalah menendang semua isi kamar satu persatu dan berkata, "Tempat ini terlalu sempit buat isi kepalaku."

Apa lagi? 

Posisiku saat ini memang sedang menulis diary blog, tetapi sebenernya aku ingin membanting layar monitor yang ada didepan mataku saat ini. Mempreteli CPU yang lemot. Mematahkan keyboard yang nggak becus untuk menyampaikan kata-kata. 

Kalau boleh jujur, rusaknya moodku disetiap kali aku terbangun adalah gara-gara wanita sialan itu pergi. Sebelum mengenal wanita itu rasanya dunia bisa berputar sebagaimana mestinya. Nggak seperti sekarang. Rasanya terlalu berantakan. Di setiap sisinya nggak terurus. Dalam satu minggu, wanita itu bisa hadir di dalam mimpi ku 2-3 kali. Tetapi saat aku bangun, semuanya hanya ilusi. Mengesalkan sekali. 

Sudah hampir satu tahun aku tidak ketemu dan berbicara langsung. Kalau pun aku ketemu, mungkin aku akan... akan... ntah lah. 

Biasanya kalau saat-saat seperti ini terjadi, Dota sebagai pelarianku. Aku bisa mengembalikan segalanya seperti sedia kala. Sampai saat ini belum ada yang lain. Itu waktu aku di Bali. Nah kalau di Jogja? Berhubung aku tidak ada koneksi yang mumpuni, terpaksa aku harus bermain di luar. Namun prioritas dompet selama di jogja adalah nomor satu makan, kedua dan ketiga sesuai keadaaan. Makannya aku tidak mempunyai tempat untuk melampiaskan itu semua. 

Menulis dan menceritakan sesuatu memang sedikit membantu. Tapi terlalu banyak gundah yang nggak bisa di ungkapkan dan dengan kata-kata yang pas. Sekalipun aku mendapatkan kalimat yang cocok, mungkin kalimat tersebut akan terdengar seperti random shits di kepala kalian. 

So, i really fucking hate u. Dear fucking life ruiner.

0 comments:

Post a Comment

 
;