Menarik sekali mencintai manusia.
Seorang anak manusia diperkenalkan pada suatu masa. Masa-masa di mana gejolak rasa mengalir bebas. Tanpa arah dan tak beraturan. Terkadang rasa itu sendiri merebut kewarasannya sebagai mahkluk berinteligensi. Dilihatnya sepanjang jalan penuh kawanan bunga dengan beraneka ragam keindahan, sembari sulur duri menyiksanya tiap kali ia melangkah. Dalam kesendiriannya ia selalu meratap.
Secangkir kesedihan diletakkan di atas mejanya. Tak terpungkiri lagi bagaimana geramnya ia disuguhi kudapan seperti itu. Yang ia cari hanyalah setetes kebahagiaan, namun kehidupan selalu memberinya sepucuk getir. Terheran ia melihat ketidakadilan macam ini. Bolehkah ia mengumpat sekarang?
Wanita itu. Ya. Wanita itu membuat dirinya kacau. Kesadarannya berhamburan entah kemana. Dirinya pun menengadah ke langit luas. Melukis imaji tentang manusia yang telah hilang.
Hanya itu yang bisa ia lakukan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment