Tuesday, October 20, 2015

Cerpen Ngawur~

Ketika Aku Melihat Bulan, Aku Melihat Kamu

Masih terekam jelas di dalam memori akan banyaknya hal yang kita lakukan di malam pergantian tahun kemarin. Senyum indahmu itu tidak akan pernah pudar di setiap detik yang kujalani. Seolah-olah bibir manismu menjadi cahaya harapan hidup bagiku. Aku tidak akan pernah membiarkan kepalsuan, kebusukan, dan kekejaman dunia merenggut senyuman indah itu dari wajahmu.

Malam berganti malam, suhu dingin yang membalut sudut kota terasa begitu pekat. Banyaknya bunyi petasan yang berpacu di langit malam, pertanda perayaan pergantian tahun akan segera di mulai.

Malam ini ku kenakan pakaian yang sama seperti malam itu waktu bersamamu, dengan kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu, jaket parasut, serta celana ripped jeans yang sudah lama tidak pernah kupakai. Perlahan-lahan aku membuka pintu apartamen dan menutup kembali pintu tersebut hingga menimbulkan suara ringan. Sambil menuruni anak tangga, berharap tidak ada yang ketinggalan di malam spesial ini.

Pemandangan di sekitar sini ternyata tidak banyak yang berubah. Sepertinya waktu berjalan lambat di tempat ini. 10 Tahun sudah berlalu, tetapi tempat ini masih tetap terlihat sama bagiku. Nostalgia akan hal-hal yang pernah kulakukan di tempat ini terus menyelimuti pikiran. Banyak kenangan yang aku dan kamu buat di tempat ini. Tidak ada malam yang tidak pernah kita lewatkan bersama. Ku nyalakan sebatang rokok untuk menjaga suhu tubuh ini tetap terjaga.

Sepanjang jalan setapak yang kulewati, begitu banyak kegembiraan yang menari-nari di tempat ini. Bagaimana pun juga, orang-orang pasti ingin membuang hal-hal buruk yang pernah terjadi di tahun ini, dan melepaskan itu semua di malam pergantian tahun ini. Aku cukup mengerti apa yang mereka rasakan. Kekejaman masa lalu tidak akan pernah bisa hilang, waktu tidak akan berbuat banyak untuk luka tersebut. Lari dari masa lalu bukanlah solusi, tapi menerimanya adalah jawabannya. 

Ku berhenti di sebuah taman. Terlihat dua orang pria dewasa sedang bermain catur di meja taman ditemani alunan nada-nada lembut dari sekelompok musikalitas jalanan, dan sekumpulan anak-anak yang bermain petasan di sudut taman. Suasana taman tidak terlalu ramai, sudah sangat jelas bukan?Sepertinya taman bukan pilihan utama untuk menghabiskan waktu di penghujung tahun.

Ada satu hal yang menganggu pikiranku, yaitu sebuah pohon natal yang cukup besar. Terakhir kali aku tinggal disini, belum pernah ada pohon natal berdiri sebesar itu di taman ini. Aku pun menghampiri pohon tersebut. Kilauan warna-warni pada bola natal dan bermacam-macam jenis lampu yang melilit di pohon, serta aksesoris lainnya yang ikut serta menghiasi pohon ini sungguh begitu menakjubkan. Pandanganku tidak bergerak sedikitpun. 

Pohon natal tersebut perlahan-lahan menarikku ke alam bawah sadar, dan melemparkanku kedalam dasar jurang yang sangat dalam. Semuanya berwarna putih untuk sesaat. Tempat apa ini? Apakah ini surga? Aku tidak mengenal tempat ini. Tempat ini seperti surga. Tidak ada yang mengalahkan pemandangan di tempat ini. Begitu menakjubkan. Bisikan rintih tiba-tiba terngiang di telingaku,

"Untuk apa keindahan semua ini ada, kalau hanya seorang diri? "

Aku tidak tahu suara ini berasal dari mana, tapi aku sepertinya pernah mendengar suara ini. Apakah kerinduanku yang begitu dalam menciptakan halusinasi seperti ini? Seakan-akan seseorang memberiku sebuah pesan yang tersirat di dalam bisikan tersebut.

Mencoba bangun dari segala imajinasi liar ini, aku mengadah keatas dan melihat sang bulan. Aku tidak melihat satu pun bintang yang bersinar di malam ini. Sang bulan yang selalu ditemani oleh bintang-bintang untuk menerangi gelapnya malam, sekarang dia sendirian. 
Mengapa bulan masih begitu kuat menyinari gelapnya malam walau dia hanya sendirian?
Kemanakah bintang-bintang yang selalu menemanimu?
Apakah engkau tidak merasa dikhianati?

Aku ingin menjadi bulan.

Aku tersadar, kalo bisikan tersebut ternyata datang darimu. Kamu mencoba untuk memberi tahuku ,bahwa kamu kesepian disana. Banyak hal-hal yang sangat indah disana, tapi kamu masih tetap merasa kesepian. Tidak ada yang bisa mengobati rasa kesepianmu itu. Tetapi kamu tetap berdiri kokoh. Seperti tidak peduli akan kesendirian, kamu tetap bersinar terang seperti bulan. Tidak pernah sekalipun kamu mencoba untuk redup. Usahamu itu menunjukan padaku, bahwa kamu berjuang disana. Cahayamu telah sampai padaku. Dan akan kusimpan baik-baik cahaya ini di kotak bernama masa depan yang akan selalu menerangi dan menuntunku untuk semakin dekat padamu. 

Aku merasa bahwa,
setiap kali aku melihat bulan, aku melihat kamu.

Aku sudahi nostalgia panjang di malam ini, dan segera mengambil jalan untuk pulang.





Maaf ya untuk plot cerita yang sangat sederhana dan super pendek ini huehuehue. Maklum, aku cuman bikin cerpen di sela-sela kebosanan jam pelajaran. Maka dari itu, kenapa cerpen ini super pendek dan plot yang sangat klasik. Di kelas imajinasiku terbatas sih hahahha (alasan). Ini aku edit-edit sedikit di komputer, sisanya pure ngerjain di kelas. Cerita ini terserah kalian menafsirkannya bagaimana, soalnya aku lebih suka pembaca yang menentukan endingnya. Ya semacam itu dehh pokoknya. Mungkin kapan-kapan aku bakalan upload lagi cerpen yang kaya gini.


0 comments:

Post a Comment

 
;