Malem ini sepertinya bulan lagi pada posisi utuhnya. Ya. Purnama. Sama di hari waktu kita putus. Uhuk.
Kayanya udah hampir setahun aku sendiri tanpa hadirnya seorang kekasih huehuheue. It's not a big deal though, ya walaupun kadang-kadang sedih sih. Biasanya kalo lagi diserang sama hal yang biasa kita sebut 'galau', aku melarikan diri dengan main games, browsing, otak-atik medsos, baca novel atopun manga (komik). Tapi bencinya kalo udah berusaha melarikan diri, tapi rasa itu tetep mengejar. Kaya gak mau lepas. Aneh. Memang, melarikan diri dari rasa tersebut ke hobby memang manjur, tapi nggak jarang juga hobby itu dapat membantu banyak. Terus solusi pastinya apa? Seperti yang pernah aku bilang. Nggak ada yang pasti di dunia ini, yang pasti hanya perpisahan.
Entah berapa kali teman-temanku udah berganti pasangan, tapi aku masih aja jalan ditempat. Bukannya nggak mau maju. Aku punya alasan tersendiri. Temenku pernah nyoba ngenalin aku pada seorang wanita, tapi ku tolak. Bukan sombong, tapi aku bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta lewat hal yang semacam itu. Apa lagi kalo sampe mengemis kontak wanita single yang bisa di ajak pdkt-an. Bukan tipe aku banget. Mungkin ada beberapa wanita yang mencoba mendekati, tapi tidak begitu ku respon. Ada lagi yang nyaranin cari pacar lewat aplikasi penjodohan di smartphone. Anjir! Nggak separah itu ngenes ku, sampe-sampe mesti nyari lewat aplikasi ato dating online. Wajahku memang nggak seberapa, bekas luka dan jerawat masih ada mengelilingi sekitar wajahku. Mungkin itu juga faktor kenapa aku masih sendirian sampe saat ini hehehhe. Kadang bikin minder asli. Makannya, aku nggak pernah mau kalo nyari pacar lewat temen atopun di jodoh-jodohin. Karena ada banyak kecacat-an yang aku punya. Karena itu, aku lebih suka kalo si wanita memang mengenalku secara langsung, menerima apa adanya, dan membiarkan rasa itu tumbuh sendiri dengan alami.
Tapi aku mencoba berubah di masa kuliah ini. Aku udah mulai nyoba untuk naksir cewek dan curhat ke temen kelas. Minta nomer cewek. Mulai pamer inceran sesama temen kelas mana yang lebih cakep. Aku mencoba untuk gaul dan nggak ketinggalan. Aku mulai berani buat nge-add si dia tanpa harus kenal terlebih dahulu. Pokoknya aku lakuin semua hal yang berlawanan 180 derajat dari sudut pandang-ku yang dulu, tentang arti cinta. Aku jadi bukan aku. Aku biasanya orang yang jatuh cinta diam-diam. Dan sekarang belajar untuk menjadi lebih frontal. Semua hal ini menjadikanku cowok mainstream yang banyak berkeliaran di dunia ini, yang hidupnya untuk berburu wanita. Dan sekarang aku menyesali perubahan ku yang ini.
Udah hampir setahun aku sendirian, sejak putus sama pacar-ku yang udah kita jalani selama 2 ato 3 tahun lamanya. Aku lupa pastinya berapa, ingatan yang seperti itu udah samar-samar di kepala. Tapi ada satu hal utama yang selalu muncul ketika niat berpacaran datang.
Untuk apa kita bertukar kasih, kalau pada ujungnya kita di ciptakan untuk berpisah?
Ya. Kalimat tersebut selalu mencuat pada saat niat berpacaran muncul. Mungkin trauma. Tapi kenapa waktu lama sekali kerjanya?
Dua ato tiga tahun pacaran itu bukan waktu yang sebentar. Apa lagi untuk aku yang nggak pernah punya pengalaman sama sekali tentang bercinta. Aku cuman pernah pacaran sekali dalam seumur hidup. Jadi, selama itu kita pacaran, pastilah udah banyak hal yang terjadi. Dari kita masih belum ngerti satu sama lain, masih malu untuk mengakui kalo kita saling berpacaran, berantem, nangis, masuk ke dalam keluarganya, saling ngasih surprise, dan yang paling berharga..... Waktu yang telah kita korbanin untuk masing-masing. Nggak cuman itu aja tentunya, masih banyak lagi hal-hal yang kita dapet setelah jalan bareng selama itu. Putus nyambung bukan hal yang jarang terjadi disitu. Susahnya menyesuaikan pikiran seseorang ke pikiran kita bukan hal yang gampang. Dan sampai putus pun kita belum sepenuhnya mengerti perasaan satu sama lain. Kata orang, pacaran itu masa penjajakan buat kita, sebelum kita pergi ke jenjang yang lebih serius. Atau lebih simpelnya 'Penyesuaian'
Jika aku sekarang mempunyai pacar, aku pasti akan mengalami hal-hal seperti dulu kan? Berantem, nangis, tertawa, ngingetin makan, dll. Bukannya boring? Mengulang hal-hal yang sama setiap berganti pacar. Memang setiap wanita berbeda-beda, mereka punya warna nya sendiri. Tapi untuk apa? Kalau kita sudah melihat ujungnya?
Itu gambaran kasar dari sudut pandangku memaknai arti kita berpacaran. Complicated. Susahnya nyari bahasa yang pas untuk gampang di cerna. Tapi gpp, semoga kalian mengerti.
Pacaran itu memang nikmat, apa lagi di masa muda. Aku nggak mungkin menyangkalnya. Aku pun juga nggak mau terus sendirian. Ada saatnya aku bakal berhenti berlari. Cuman buat sekarang kayanya aku nggak mau mengorbankan waktuku lagi buat orang yang nggak pasti. Aku cukup jera. Waktuku yang begitu berharga diambil, dan dengan mudahnya untuk dilupakan. Kalau aku nggak berhenti sekarang, semakin banyak waktuku yang terbuang sia-sia. Apa lagi memberikan waktu ku yang berharga ke orang yang nggak bisa menjaga-nya. Buat apa? Perjuangan keras ditutup dengan perpisahan tak bermakna. Apakah sebanding? Jelas tidak.
Menyusun sesuatu yang udah hancur berantakan dan dipaksa untuk berdiri tegak, itu tindakan yang kejam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment