Sunday, October 11, 2015

The Future We Choose

Setengah jam lagi udah ganti hari, malem minggu pun terlewatkan seperti malam2 biasanya. Ketimbang menghabiskan waktu buat bersosial bareng temen, ato sekedar mencari angin, aku lebih memilih untuk diam dikamar dengan gadget dan komputerku. Sore tadi sih sebenernya pengen nulis blog, biar malem minggu nggak terlalu kelabu. Tapi mood tiba2 ngilang, aku batalin nulis, i do watching instead. Dan ini baru aja selesai nonton film, langsung buka blog. Nggak afdol kayanya kalo malem ini nggak ngupload blog. Hari ini 5x lagu Fix You - Coldplay aku putar di komputerku, entah kenapa aku ingin nulis pengalamanku yang mirip sama lagu tersebut.

Pernah nggak kalian kecewa sama temen, sahabat, saudara, ato pacar? Kecewa dalam berbagai hal misalkan, yang sampe2 membuat kalian nggak ingin kalo mereka ada di hidup kalian lagi. Ketika kalian terlalu mencintai mereka tapi di saat itu juga kalian harus merelakan mereka. Apa yang bakal kamu lakukan? Rasa kecewa boleh menjadi salah satu hal yang paling mengerikan di dunia, tapi rasa kecewa pasti dapat disembuhkan oleh waktu. Tapi, keputusan yang kita buat saat diposisi itu, yang tanpa pikir panjang, emosi meluap, dan tidak perduli lagi jika dunia akan berakhir. Maka, selamat anda telah milih jalan yang akan kalian sesali seumur hidup, dimana waktu tidak bisa lagi mengobati luka.

Itu lah yang aku rasain waktu itu. Seorang yang sudah aku anggap teman hidup berkata, bahwa dia nggak bakal selalu ada di samping ku lagi. Dia bilang, dia akan merawat orang tuanya. Darah pun langsung naik ke kepala, tanpa sadar aku berkata ke dia, "JANGAN PERNAH HUBUNGI ATAU KETEMU AKU LAGI!" 

Setelah pengorbanan yang telah aku lakuin, seenaknya  aja dia bilang gk bakal ada di samping ku lagi. Jelas2 kita udah bermimpi dan berjanji bersama-sama, saling membantu menemukan impian masing2, dan selalu jalan bergandengan nggak perduli apa yang orang lain bilang. Tapi dia malah ngerusak janji itu sendiri. Kita sama2 saling mengorbankan waktu, tapi kenapa menurutmu waktu itu kaya gak ada artinya? Kamu paham nggak sih nilai-nilai dari waktu yang kita jalanin sama2? Selama itu kita membangun pertemanan dekat, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Nggak sedikit pertengkaran yang kita alami. Apa arti waktu buatmu?

Ya itulah yang aku pikirin pada saat itu, tapi belum sempat terucap. Aku tau ini egois, begitu mulianya dia. Dia ingin merawat orang tuanya sampe tua nanti, sedangkan aku malah egois. Hahaha, waktu itu aku doyan drama sih, makannya jadi begitu deh. Tapi aku udah mulai menghilangkan sifat dramatis itu kok, sedikit demi sedikit. Suwerrrrr!

Setelah itu pun, hari berganti hari gk ada kabar dari dia. Ya lah! Sesekali kita pernah chat. Obrolan dari chat tersebut aku lupa, kayanya kita masih sedikit berdebat kalo gk salah. Sama dia cerita kalo dia udah punya temen deket baru, syukur pikirku, karena dia udah ada yang ngejagain. Aku pun rada jealous, dia bisa dengan mudahnya ganti tempat, sedangkan aku masih di tempat yang sama. Begitu banyak waktu yang bisa aku gunain buat minta maaf buat kejadian yang waktu itu, tapi nggak sekalipun aku nge-lakuin hal tersebut. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan hampir setahun dia pun nggak ada kabar. Walaupun begitu, aku nggak pernah buat nyoba buat nelfon dia ato pun nge-chat dia. 

Sejak saat itu, aku nggak pernah bisa lagi tidur nyenyak. Flashback2 tentang dia selalu muncul ketika aku hendak terlelap. Setiap hari aku mengalami kejadian kaya gini, nggak enak banget. Rasa berdosa, dan rasa bersalah menjadi satu. Kenapa aku nggak minta maaf waktu itu? Kenapa waktu kejadian itu aku mesti mengambil keputusan yang salah? Banyak pertanyaan yang mengalir. Tapi aku tetap nggak ngelakuin apa-apa walaupun aku bisa.

Lebaran tiba, tapi kata maaf pun belum terucap dari mulut ini. Flashback2 di kepala makin menjadi!
Karena udah muaknya aku dengan flashback2 itu, waktu itu kejadiannya 2 minggu setelah lebaran. aku putusin buat nge-hubungi dia dan segera minta maaf yang sebesar-besarnya.  Aku pun nge-chat temennya, kenapa temennya? Karena kontaknya nggak bisa dihubungi lagi, bbmku di delcont, dan aku gk punya jejak soal dia. Satu-satunya cara ya lewat temennya. Aku bilang ketemennya buat minta kontak dia yang bisa aku hubungi. Dia bersedia ngasih, tapi tunggu persetujuan si dia. Dan ternyata dia nggak nge-bolehin buat ngasih kontaknya dia ke aku!
Oke dari situ aku sadar, ternyata aku udah telat buat minta maaf.

Semenjak itu, flashback2 itu hampir nggak pernah muncul lagi. Kayanya Tuhan mendengar permintaan maafku yang tulus, yang mungkin nggak si dia dengar. 

Aku nggak tau alasan dia apa nggak mau menghubungiku lagi. Tapi dari sini aku tau, setebal atau sekuat apapun hubunganmu dengan seseorang. pada akhirnya kalian akan dipisahkan oleh jurang yang disebut perpisahan. Nggak ada yang pasti di dunia ini, yang pasti adalah perpisahan. Mulai sekarang, aku maupun dia hanya menjadi seseorang yang pernah saling mengenal. Waktu tidak bisa berbuat banyak disini. Dan rasa menyesalpun belum berakhir sampai saat ini. 

Drama banget ya pengalamanku huehuehue. Ya gitu deh, apa adanya. Tentu saja cerita aslinya nggak se-simpel itu. Kalo di ceritain semua mah capek atuh. Mungkin kalo aku ceritain detail nya, bsa jadi satu buku ensiklopedia dan dalam waktu seminggu langsung jadi best seller. HAHAHHAHA! #krikkrik #apasih #apaancoba


 Aku sendiri berharap temenku yang aku maksud bisa membaca tulisan ini, dan kita bisa cerita bareng2 lagi hahaha. Kamu mungkin udah menemukan masa depan yang terbaik buat kamu, jadi kamu gk bakal pernah nge-liat aku lagi yang udah ada jauh di belakangmu. Tapi aku bakalan tetap diam disini, sampai suatu saat ada orang yang bisa mengembalikkan waktu, dimana aku bisa meminta maaf padamu yang sesungguhnya.

Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya.






















0 comments:

Post a Comment

 
;