Semua sesuai dengan apa yang aku perkirakan. Aku berhenti
menyangkalnya, ketika tahu bahwa semua ini telah terjadi. Sayap-sayap putih
kemilau yang kau berikan, kini telah berubah menjadi sampah plastik yang tidak
berharga. Benda-benda langit yang engkau perkenalkan padaku saat kita terbang bersama,
sekarang menjadi asing di mataku. Beberapa waktu lalu di tengah langit-langit senja,
saat cahaya matahari mulai meredup, tetapi tidak luput dari warna jingga yang
sangat indah, kita bertukar pikiran. Begitu abstrak. Hampir aku tidak bisa
memahami apa yang ada di pikiranmu. Seketika raut wajahnya berubah. Apa yang
telah terjadi? Beban apa yang sedang kau pikul? Apakah malaikat masa lalu masih
mengikutimu di belakang? Terdiam seribu bahasa tanpa mengeluarkan setetes
huruf. Apakah aku telah membangunkan sesuatu yang tak harus bangun? Maaf, aku
hanya sekedar ingin tahu tentangmu.
Sayap-sayapnya mulai berhenti terbang, perlahan ia
kembali ke tanah. Dan berjalan meninggalkanku. Aku heran. Kenapa harus berjalan kalau kita
bisa terbang? Kenapa berhenti kalau bisa berlari? Pertanyaan-pertanyaan liar
menghujat pikiranku. Warna jingga tak lagi indah jika hanya dinikmati sendiri.
Kenapa kau berjalan begitu cepat? Sayap kecilku tidak bisa mengimbangi
langkahmu kau tahu? Harusnya mengejarmu bukan hal yang sulit untukku. Mengapa?
Apakah sayap yang kau berikan padaku ini hanya sayap plastik? Yang sengaja kau
berikan agar aku tidak bisa meraih tangan kecil-mu itu?
Melihatmu berjalan pergi menjauh, begitu membuatku kesal.
Tidak sedikitpun matamu melihat ke belakang. Padahal kau tahu, bahwa di
belakangmu aku masih terus berusaha untuk meraihmu. Tidak berharga. Itulah yang
kau pikirkan. Bukan. Pasti itu ulah masa lalumu yang kejam. Ku berhenti
sejenak.
Kurobek sayap sampah ini. Belajar berjalan sendirian
memang tak mudah. Ku berbalik ke arah berlawanan kau berjalan. Dengan
terpincang-pincang aku menentukan jalan ku sendiri. Tidak lagi bergantung pada
siapapun. Dan memori-memori tentang mu yang ku agung-kan samar-samar menjadi
tidak berharga. Semakin jauh, semakin tidak berharga. Kamu tidaklah berharga
lagi di hidupku. Sampai jumpa di masa depan atau kehidupan selanjutnya. Teman lama.


0 comments:
Post a Comment