Sunday, October 18, 2015

Malam Keakraban Bareng Keluarga HMJM

Betapa lelahnya badan ini buat nulis, tapi kepengen cepet di tulis biar nggak lupa apa yang mau di tulis #ribet . 
Oke, hari ini aku baru aja pulang dari kegiatan malam keakraban yang diadain oleh HMJM STIE YKPN di daerah pantai Parangtritis. Yoii bro, aku anggota HMJM sekarang huheuhuhe! Ya sebenernya ikut ini sih cuman ngisi waktu doang. Maklum lah, terlalu banyak waktuku buat bersantai, jadi belajar produktif sedikit lah hehehhe. Acara ini dimulai dari tanggal 17 Oktober kemarin, sampai tanggal 18 Oktober sore. Kita berangkat dari kampus sekitar jam 9 lebih sedikit, menggunakan transportasi bus pariwisata tahun 90-an. Peserta cuman disuruh membayar 120rb untuk mengikuti acara ini, jadi uang menentukan kualitas as always. Jadi aku ceritain di beberapa poin aja ya. Capek ngetiknya bosss.

BARU DATENG

Setelah tiba di tkp, aku kaget bukan main. Iya gaes, soalnya waktu TM di jelasin tempatnya itu bakal dimana, dan kakak-kakak panitia bilang namanya, "Villa Hanoman." Imajinasi ini mengkhayal terlalu tinggi, aku pikir villa yang di maksud adalah yang seperti layaknya villa-villa untuk liburan itu. Ternyata cuman losmen atau penginapan tua yang tempatnya cukup nggak terurus. Minus 1 poin buat HMJM, karena udah php-in aku huehuehue. Ya kalo cuman di penginapan ato losmen, mbok ya di billang seperti apa adanya. Jangan di hiperbola-in jadi villa dong ah!

PEMBAGIAN KAMAR

Sampai di pembagian kamar, calon anggota cewek dan cowok di pisah barisannya, cowok di sisi timur dan cewek di sisi barat. Oke, aku percepat dikit ya. Semua cowok sudah menempati kamarnya masing-masing, kecuali aku dan Berry temen sekelasku. Aku dan Berry pun maju, karena tinggal kita berdua yang belum dapet kamar untuk tidur. Baru satu langkah berjalan, terdengar suara dibarisan cewek,

"Afenda Aminulloh Minharnika di kamar 2!" teriak kakak panitia itu. Karena nggak ada yang maju, ia pun mengulanginya lagi dengan nada yang lebih keras.
"ANJIRRRRRRRRRR!!!!!!" Kataku kepada si Berry
"Kenapa fen?" Tanya si Berry kalem.

Aku nggak melanjutkan pertanyaannya si Berry, dan langsung segera lapor kepanitia.

"Kak, namaku kok itu disebutin di pembagian kamar cewek??" Dengan nada yang cukup nyolot.

"Oh maaf dik, aku kira kamu cewek" 
"Kamu sama dia masuk ke kamar 2 ya." Polos. #Bruhhhhhh 

Sambil berjalan menuju kamar, si Berry pun tertawa kegirangan. Gini ya teman-teman, namaku ini dari mana nya sih bagian ceweknya? Kok orang-orang selalu bilang ini nama cewek?? Kesel banget, malu bukan main. Bayangin, sejak SMP sampe lulus SMA, namaku yang tertulis di absen kelas, itu gender nya selalu P! Fucking shit banget. Minus 1 buat HMJM pokoknya!

PEMBAGIAN KELOMPOK

Disini pembagian kelompoknya cukup absurd, kita nggak bsa milih kelompok kita sendiri, supaya kita juga bisa membaur sama temen-temen lainnya. Kita membuat lingkaran besar, setelah itu kita berhitung 1-7. Tiap orang yang mendapatkan nomer yang sama, berarti dia satu kelompok. 

Masing-masing kelompok berkumpul dan membuat lingkaran kecil. Dan apa yang kita lihat di sini bungg? Ternyata aku satu kelompok dengan adik kelas SMA ku sendiri bungg. Unbelievable. Adik kelasku ini cewek. Aku hampir nggak pernah bicara sama dia waktu di SMA, tapi aku inget jelas namanya. Sebelumnya sih kita udah sering bertemu di kampus, cuman nggak pernah saling sapa gitu. Aku mikirnya nanti kalo aku asal nyapa dia, eh taunya dia lupa sama aku gimana?. Kan canggung. Dari pada menghasilkan suasana yang awkward, kita jadi pura-pura nggak kenal gitu di kampus. Walaupun di SMA aku cukup anti sosial sama adik kelas, tapi aku selalu inget wajah-wajah adik kelasku, dan juga namanya. Nggak lupa kan kalo aku stalker sejati? Hahahahahahha! 

Nggak disangka dia membuka obrolan duluan sama aku.

"Kak Afenda masih inget sama aku nggak?" Katanya kalem. Dari bola matanya aku bisa baca kalo dia berdoa kecil, berharap manusia hina ini ingat sama aku.

"Y, ya inget lah, kamu temen sekelasnya adit kan? Sambil terbata-bata karena gerogi. Aneh ya? Memang!

Obrolan kita pun dilanjutkan dengan basa basi busuk. Dan satu pertanyaan yang bikin flashback mencuat dari bibirnya,

"Kak Afenda, masih sama kak ***?" 

Kenapa ya, kalo ketemu kenalan dari SMA pasti pertanyaan kaya seperti itu selalu keluar. Entah kutukan apa ini. Hidup ini gak adil, kenapa cuman aku doang yang di tanyain ginian sih? Itu si mantanku aja kaga pernah di tanya beginian. Kan curang! FYI aja, aku pacaran di SMA cuman 1x, dan itu sama orang yang sama dari kelas 1 SMA sampe lulus. Jadi cukup wajar menurutku pertanyaan ini selalu mencuat ketika ngobrol bareng sama kenalan  SMA. Tapi kalo di tanyain gitu terus aku ya kzl to mas mas.

API UNGGUN
Sambil mengikat slayer di leher, aku jalan keluar kamar menuju lapangan. Disitu sudah terlihat kayu untuk api unggun terpasang rapi, dan lilin-lilin sudah berjejer yang membentuk sebuah lingkaran besar. Masing-masing lilin di isi satu orang, bersama kelompoknya. Jadi aku dan 6 orang anggota kelompokku, berdiri berdampingan. Posisiku paling strategis, dihimpit oleh 2 wanita cuy. 


Romantis banget kan? Coba aja ada kamu disini, hmmm. Sebenernya sih aku mau ngambil foto di setiap acaranya. Tapi berhubung hp dan ipad di sita, harapan cuman jadi harapan.




Kalo penasaran aku dimana, tuh aku tunjukin. Itu disamping kiri ku ada Shinta (adik kelas SMA) dan sebelah kanan ku ada Eggi. Nggak, itu aku ngadep situ nggak lagi modus kok, suerr. Aku lupa aku ngomong apa disitu, soalnya ini yang jepret kakak panitianya, baru dikirim tadi lewat grup LINE.

Aku percepat bagian seru2an di api unggun nya, pasti udah tau lah isi api unggun itu kalo nggak spontanitas, ya renungan. Menurutku lho.
Kita semua disuruh berdiri, dan diminta mengikat slayer yang kita bawa, untuk jadi penutup mata. 

"Gandeng tangan disamping kalian" Teriak MC.

Wah, momen ini nih. Yang bikin hepi dan juga bikin grogi. Saking lamanya nggak ada yang gandeng, takutnya pas sekalinya di pegang malah keringet dingin.

"Ah bodo amat!" Pikir ku dalam hati. Yang ntar, ntar aja dipikirin.

Serentak, tangan kami bergandengan semua. Tangan-tangan cewek memang mulus semua ya, nggak salah kalo makhlhuk Tuhan yang satu ini menjadi perusak akal sehat buat para pria. Imajinasiku melayang jauh di bagian ini. 

Musik dinyalakkan. Panitia memilih lagu Bunda dari Melly Guslow untuk sesi ini. Dari musik nya bisa kita lihat dengan jelas, kalo ini adalah renungan. Semenit berlangsung nya renungan, tangan kananku bergetar ringan. Tanda kalo si eggi sedang menangis, betapa imut sisinya yang ini. Sedangkan dari si shinta nggak ada satupun air mata yang keluar dari awal sampe akhir renungan. Terlalu strong nggak manis tau buat cewek, ada saatnya kalian harus bergantung  sama pria #apasih #akungomongapaanjir . 

Nahh saatnya sesi penggojlok-an. Untuk organisasi sekelas HMJM penggojlok-an pasti ada. Yang melakukan penggojlok-an sepertinya adalah alumni HMJM dan juga pengurus HMJM. Seperti menunggu jodoh, nggak ada satupun yang menggojlok diriku ini. Sedangkan untuk wanita-wanita cantik yang ada disampingku bahkan sudah berkali-kali alumni bergilir untuk menggojlok mereka. Tampaknya disini penggojlok-an berbumbu modus bung!! Isak tangis Eggi semakin mengeras dari sebelumnya, dia mengenggam tanganku semakin keras dan mengeras selama sesi ini berlangsung. Mencoba membantu si Eggi agar tetep kuat, aku hanya bisa mengelus lembut tangan Eggi supaya dia tetap tenang dan fokus. Dan masih, aku tetep nggak ada yang menggojlok. Sedih.

"Buka mulutnya" 
Dari sumber suara, dipastikan itu untuk si shinta sebelahku.

Disuruh makan apa aku ini ya. Mulai khawatir. Alumni mencoba membuat peserta muntah dengan "UEK" nya yang lebay itu. Pasti sesuatu yang pahit. Aku masih bisa nge-handle rasa pahit, slow lah pikirku. Giliranku tiba,

"Buka mulutnya" Kata si kakak
"Yang lebar!" Mulai nyolot

Sendok pertama, seperti yang kuduga. Ternyata kita disuruh menelan cairan ato sejenis sirup yang rasanya sangat pahit! Kutelan habis,

"Buka mulutnya lagi!" Teriak si kakak 

"ANJRIT MASIH ADA LAGI"

Sendok kedua ini rasanya kaya air kencing kuda asli, rasa asin dan asam bersatu padu. Ini cukup bikin aku mau muntah, tapi aku tetep berusaha buat nelen dan ngelupain rasanya biar gak keliatan cemen. Dan sendok terakhir ternyata manis, setidak nya bisa menghilangkan kedua rasa yang tadi. Si eggi tampaknya agak kesulitan meminumnya, genggaman tangannya yang mulai kendor, kembali mengeras. Sekarang gilirian si Fath ketua kelompok ku. Kayanya itu baru sendok pertama, dan dia langung muntah! Anjirr. Dan muntahnya itu nggak sante abis, sampe2 isi makanan diperutnya sepertinya juga keluar kalo diliat dari keseriusan muntahnya. 

Ketika penutup mata dilepas, api unggun sudah menyala terang. Perlahan sang api melahap kayu bakar, kita semua bernyanyi Api Unggun cukup riang, dan dilanjutkan tidur.

Mungkin segitu dulu yang bisa aku ceritain, lanjutannya aku kerjain besok. Oke?


























 
;