Friday, January 8, 2016

Man Without Wings #1

Aku beranjak dari kasur setelah menghabiskan—oh, aku sudah lupa berapa batang rokok yang aku hisap hari ini—barang yang tak berguna ini. Melihat sebuah pena yang terus memanggil untuk diceritakan sesuatu. Sesuatu hal yang ntah itu apa.  Siapa yang tahu, kalau manusia hanya membutuhkan sebuah pena untuk menggambar impian.

Pena yang aku punya hanyalah sebuah pena biasa. Tapi dengan sebuah pena biasa, aku berani menciptakan mimpi yang hanya tersimpan didalam hati. Mengeluarkan segala bentuk inspirasi dan celotehan tidak penting, yang selalu malu-malu untuk menampakan dirinya. Untuk orang-orang yang tidak mempunyai tempat di dunia ini, kertas putih dan sebuah pena sudah lebih dari cukup untuk menemani pahitnya senja kehidupan.

Perlahan aku angkat pena kecil yang tertidur diatas sebuah meja kayu usang, dan mengambil secarik kertas yang tersimpan di laci meja tersebut. Aku tidak tahu apa yang akan aku tulis, tapi pena itu seolah-olah berkata, “Pegang aku, hanya dengan memegangku kau akan tahu apa yang aku tulis.” Kertas putih suci tidak berkomentar apa-apa. Barangkali ia terlalu pasrah, atau jangan-jangan ia diam-diam ingin menjadi saksi dari mimpi kecil seseorang yang tidak mempunyai apa-apa selain sebuah pena ditangannya.

Selama beberapa waktu aku tidak berhasil menuliskan apapun. Sang pena berdusta. Tidak mungkin orang yang sedang kacau mampu menuliskan satu patah kata pun. Berbicara soal kacau, ruangan yang aku sebut kamar ini terlalu tidak berbentuk. Laksana pesawat terbang yang mendarat dengan paksa ke tanah, dan jatuh berkeping-keping. Begitu berantakan.

Tanpa disadari atau tidak, kamar ini perlahan merefleksikan kondisi kejiwaanku. Aku tidak mempermasalahkan itu. Kamarku sudah menjadi surga yang tak terjamah—walau Adam sekalipun—yang sengaja diciptakan Tuhan hanya untuk diriku seorang.

Kalaupun aku meninggalkan tempat ini, suatu saat akan selalu ada rasa ingin kembali. Rumah disebut rumah karena kita nyaman berada didalamnya. Tidak peduli seberapa hancur isinya. Pakaian kotor yang berhamburan disana-sini. Puntung rokok yang menyembul keluar dari asbak. Abu rokok yang bersatu dengan debu. Kasur yang tidak berbentuk. Lima kantong sampah yang berisikan bekas makanan instan. Jendela yang selalu terbuka. Coretan dinding dimana-mana. Dan sepenggal kisah tentang aku dan seseorang.

Terdapat satu keindahan yang hanya bisa di dapat dikamar sekotor ini. Keluarga burung gereja yang mendirikan istananya, tepat di dahan pohon cemara samping jendela yang tak pernah tertutup. Mataku selalu mengawasi keseharian mereka. Tak jarang seulas senyum tipis dari wajahku menampakkan dirinya.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya. Karena sudah tahu siapa yang menelepon ponsel yang sudah berjamur itu. Hanya sahabatku, Merry.

Dengan terpaksa aku meraih ponsel tersebut. Sudah dua minggu, atau tiga minggu? Aku tidak menghiraukannya. Beberapa detik setelah aku mengangkatnya, langsung kujauhkan ponsel dari telingaku. Ada sesorang yang berteriak di ujung sana. Tanpa pikir panjang aku langsung mematikan panggilan itu. Aku sungguh tidak menyukai kebiasaan Merry yang ini. Suara yang ia hasilkan sudah seperti baling-baling helikopter. Sungguh, ia harus merubah kebiasaan ini.

Ponselku bergetar kembali. Merry lagi. Manusia itu tidak pernah menyerah.

  “Kenapa?” jawabku

Ia tidak langsung menjawabnya, kali ini dia tidak berteriak seperti tadi. Suaranya lirih dan terdengar cemas.

  “Kau dimana?”

  “Di rumah,” sahutku.

  “Sudah berapa hari kau tidak melihat matahari?”

  “Entah, sejak hari itu mungkin.”

  “Sudah makan? Apa mau kubuatkan makanan di tempatmu?”

  “Tidak usah. Tempat ini kaya akan makanan instan.”

  “Tidak baik! Tunggu, aku segera kesana.”

  “Terserah, tapi rumah ini sudah tidak berbentuk setelah kau tinggalkan sebulan yang lalu.”

  “Kau sedang apa?”

  “Menulis.”

Ada jeda setelah aku berkata seperti itu. Selama jeda itu aku memperhatikan keluarga burung gereja yang sedang asik bermain dengan anak-anaknya di istana mereka.

  “Hmmm. Sejak kapan kau menulis? Lagi pula apa yang sedang kau tulis?”

  “Kau terlalu banyak bertanya. Segeralah kesini. Sebelum aku mengunci pintu rumahku dan melarangmu masuk kedalam,” kataku sembil memijat-mijat kening. 

Kelakuan wanita satu ini yang selalu penasaran dengan hal-hal baru yang aku buat. Yah, karena dia memang teman masa kecil yang selalu merepotkan dan ingin tahu segalanya.

  “Tidak sebelum kau menjawabnya!” Ia menekankan perkataannya. Tanda rasa penasaran yang sudah memuncak, tapi masih dalam tahap wajar. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika rasa penasarannya sudah sampai level puncak gunung Everest.

  “Setelah kau sampai disini,” jawabku ringan.
  
  “Oke! Tiga puluh menit aku akan sampai disana dan menjitak kepalamu yang sudah membuat aku penasaran.”

  “Ya,” kataku ringan.

Kali ini sudah tidak ada lagi gangguan. Aku harus kembali ke pena yang sudah menungguku. Sampai saat ini aku belum juga menuliskan bait-bait kata. Pikiranku terlalu abstrak untuk dituangkan. Buntu. Merry jelas akan menertawakanku. Wanita sialan itu selalu menggoda mimpi seseorang. Setelah itu aku pasti tidak berkeinginan menulis lagi dibuatnya.

Pernah aku bermimpi menjadi seorang arsitektur pada saat sekolah dasar, katanya gambarku seperti seorang anak autis. Pernah aku bermimpi menjadi seorang musisi, kata Merry sense musikku tidak bagus. Awalnya aku tidak peduli, tapi lama kelamaan orang-orang mengatakan yang sama.  Baiklah Merry menang. Yang paling parah waktu aku pernah bermimpi menjadi seorang Youtube-ers, dan baru mengupload sebuah vlog kedalamnya. Aku menceritakan pada Merry, dan sudah kuduga. Impian ku di sambut hinaan olehnya. Katanya aku sudah mirip seperti anak autis yang sibuk dengan dunianya sendiri. Satu kelas menertawai dan mencemoohku setelah Merry menyebarluaskannya. Hari itu juga aku langsung menghapus akun Youtube ku.

Salah memang terlalu memikirkan perkataan orang.  Mimpi tidak terwujud karena seseorang bilang begitu padamu. Seharusnya aku mengacuhkan hinaan Merry dan berjalan kedepan. Yah, bagaimanapun aku tidak menyesal. Yang buruk terjadi karena sebuah alasan bukan?

Jam berapa ini? Kenapa Merry lama sekali sampai disini. Sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu sejak ia menelpon barusan. Aku tahu, aku hanya mencari alasan. Setidaknya aku harus menulis satu paragraf, sebelum wanita itu datang. Satu kalimat pun belum tersusun di kertas ini. Harus segera menulis. Harus.

Aku melemparkan kepalaku kesamping, tempat jendela yang tak pernah tertutup berada. Butir-butir air mendarat diatasnya. Crescendo. Sebutan untuk hujan yang jatuh hari ini. Di awali dengan butiran lembut—bertahap—berubah menjadi riuk.  Suara yang dihasilkan juga seperti crescendo.

Sebenarnya aku tidak suka saat hujan turun. Aku tidak tahu kenapa dan mengapa. Tetapi hujan selalu merampas sesuatu dariku, dan dibawanya tenggelam bersama ke dalam tanah. Seberapapun usaha mu melawan hujan, hujan selalu punya cara untuk membuatmu tidak berdaya.

1 comments:

Post a Comment

 
;