Aku memandangi wajah Merry untuk kesekian kalinya. Dia terlihat begitu manis ketika tidur. Bukan. Lebih tepatnya ketika dia tidak membuat suara apapun alias diam. Seraya aku memandangi wajah mungil itu, aku tidak bisa melakukan apapun. Dengan polosnya Merry tertidur di pangkuanku.
Kami sampai di rumahku dengan tidak wajar. Pakaian kami sudah menampung berliter-liter air dan di hiasi lumpur taman. Terima kasih untuk Merry. Karenanya, kami begitu terlihat seperti gelandangan.
Tapi aku cukup senang hari-hari seperti ini terjadi. Menjadi amnesia sesaat dengan beban yang aku pikul saat ini.
***
Aku sungguh tidak tahan lagi dengan posisi ini. Sudah dua... tiga jam lebih aku tidak bisa kemana-mana dan melakukan hal apapun. Lebih baik aku memindahkan wanita ini ke kamarku. Segera aku menggapai tubuh Merry dengan keseluruhan dan bersiap untuk mengangkatnya.
"Satu... Dua... Tiga..." hitung diriku di dalam hati.
Tubuh Merry ternyata cukup ringan. Tidak seperti kelihatannya. Wajar saja, seorang model harus menjaga penampilannya.
Dengan hati-hati aku berjalan sembari menggendong Merry. Derap langkahku begitu ringan. Tidak ada suara yang mengiri langkahku. Menaiki tangga melingkar khas rumahku dengan waspada. Berusaha untuk tidak membangunkan Merry dengan membenturkan kepalanya ke dinding tangga.
Sesaat setelah tiba di depan kamarku, Merry tiba-tiba membuka matanya.
"Bagaimana rasanya menggendong wanita cantik lelaki ampas?"
Dengan suara lirihnya Merry kembali menutup matanya lagi.
"Diamlah wanita berisik, atau aku akan melemparkan tubuh kapas ini dan menggulingkannya di tangga tepat di belakangku." Jawaban yang senantiasa aku berikan terhadap kalimatnya barusan.
Aku membuka pintu kamarku dengan bersusah payah. Segera pintu terbuka, aku meletakkan tubuh Merry di atas kasur surgaku. Dia sedikit bergumam. Aku tidak tahu apa yang sedang di gumamkannya, dan aku tidak peduli,
Jam masih menunjukkan belum tengah malam. Sedikit udara segar mungkin cukup untuk mengakhiri hari ini. Aku segera menuju beranda kamar. Walau hanya dua lantai, udara dingin begitu lihai menggigilkan tubuhku. Lebih baik aku nyalakan sebatang rokok untuk mengimbanginya.
Tidak seperti biasanya bintang-bintang tidak menampakkan dirinya bersama rembulan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comments:
Cepet lanjutin lagi yang ini pak. Aku menunggu.
Post a Comment