Wednesday, January 6, 2016

Perspective

Aku tidak tahu mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikir. Menurutku, akal pikir manusia lambat laun dan dengan sendirinya akan menghilangkan eksistensi ke-Tuhanan itu sendiri. Apa yang salah dari sebuah sudut pandang? Jelas banyak. Sayangnya Tuhan menciptakan seorang manusia dengan berjuta-juta perspektif, namun tak diberikannya sebuah kemampuan untuk melihat perspektif orang lain dengan seimbang.

Manusia selalu berkeinginan untuk menjadi satu kedaulatan dengan manusia-manusia lain. Tapi tindakannya tidak mencerminkan pikirannya. Apa yang dilihatnya, selalu beda dengan yang orang lain lihat. Sikap apatis dan mau menang sendiri sudah menjelma menjadi sosok nyata yang tak terelakkan. Tanpa sadar bumi menjadi pembuangan sampah bagi aspirasi manusia didalamnya.

Aku selalu mengeluh. Kenapa setiap manusia tidak diciptakan dengan satu sudut pandang yang sama. Bukannya dunia akan lebih indah dan terawat ketimbang saat ini? Tapi aku sadar, penemuan-penemuan hebat yang berguna sampai saat ini, ada karena jutaan sudut pandang yang berkumpul menjadi satu. 

Nahas nya, aku selalu menyangkalnya. Hidup manusia akan lebih mudah, kalau sesama manusia diciptakan dengan sebuah perspektif yang dimana orang-orang tidak ada lagi yang mati dengan sia-sia. Terlalu banyak korban akibat sudut pandang yang gila. Tak terhitung jumlahnya, bahkan mungkin saat ini masih banyak orang yang menjadi tahanan akal pikir manusia tersebut. 

Kita memang tidak diciptakan untuk bersatu. Egoisme yang selalu mendahului kepentingan bersama, menghancurkan dunia ini. 

Sadar atau tidak, banyak orang bodoh yang menyatakan kesempurnaan ideologinya sebagai pemersatu perdamaian dunia. Nyatanya hanya semu. Tidak ada yang kekal. Tercipta dari kerakusan tidak akan bisa di lunakkan dengan cara yang seperti itu. Kalian sendiri tahu, apa permasalahan dunia saat ini.

Diciptakan-Nya berbagai jenis manusia, terkait dengan suku, ras, agama, harta, keberuntungan, tragedi, manusia untuk pertama kalinya menginjakkan sebuah tempat dimana semua itu hanya menjadi rasa pahit. Dari lahir kita selalu di didik oleh kedua orang tua, atau bahkan orang yang tidak tahu siapa kedua orang tua mereka, selalu di ajarkan tentang kebaikan dari kecil. Tapi apa mereka semua sadar, yang mereka ajarkan sedari dini menjadi tinta permanen yang tidak tahu bagaimana kita menghapus dan membenarkannya.

Aku bersyukur, orang tuaku mengajarkanku bagaimana berdiri dengan kaki sendiri, Tidak kuinginkan tinta permanen tersebut hilang dari kertas putih kehidupanku. 

Tapi untuk sekali lagi, 
aku sungguh benci bahwa kreatifitas harus mati ditangan perspektif.

2 comments:

Post a Comment

 
;